Salah paham mengenai istilah Dosa Asal, atau Dosa Waris, yang telah diidentikkan sebagai transfer-muatan dosa dari nenek-moyang ke anak-cucu.
Banyak teman-teman Muslim yang memahami dosa-asal ini sebagai dosa yang pertama yang "segepok" dari Adam itu terturun "segepok" pula kepada anak-cucunya. Akibatnya dirasakan tidak masuk akal, bahwa setiap bayi yang terlahir sudah membawa hutang-waris, walau ia belum berbuat dosa apapun!
Itulah proto-type yang salah kaprah dari teman-teman Muslim yang sering memaksakan makna teologis-kristiani secara dangkal, menurut makna mereka sendiri. Andaikata itu benar maksudnya, tentulah akan lebih tidak masuk akal bahwa kita-kita yang hidup di ujung zaman ini akan ketimpaan ratusan/ribuan/jutaan gepok dosa-asal kumulatif dari ratusan generasi sejak kejatuhan Adam.
Kutukan Insani :
"Kutukan insani" segera tampak dengan kasat mata bahwa kita semua ini tercoret dari kultur kehidupan Taman Eden yang pernah dinikmati oleh Adam dan hawa sesaat, untuk kemudian digantikan dengan kultur :
1. Berpeluh untuk mencari makan (Kejadian 3:19)
2. Bersusah-payah mencari rejeki (Kejadian 3:17)
3. Harus menderita sakit (termasuk sakit bersalin), (Kejadian 3:16)
4. Harus merasakan eksedihan (bersusah-payah) dan mengalami kematian jasmani (Kejadian 3:19).
Ujud-ujud kutukan diatas tidak terhindarkan oleh siapapun juga, sekalipun ia seorang nabi. Dosa-asal dari manusia telah melahirkan semua kesengsaraan ini.
Ini sungguh bertolak belakang dengan Ajaran dari kalangan Muslim, yang justru sering emmpermasalahkan Dosa-asal dalam ajaran Kristiani. Dalam ajaran Muslim menyatakan bahwa Allah tidak mengutuk siapa-siapa karena Adam langsung bertobat dan dosanya telah diampuni. Kalau begitu, darimana datang kesengsaraan dan kejahatan dunia? Dan Al~Qur'an menjawab bahwa Allah sendiri yang menciptakannya!
-Anonymous